Asas Kebangkitan Dunia Islam

 on Selasa, 04 Mei 2010  

Asas Kebangkitan Dunia Islam
Oleh : Syaikh Muhammad Nashiruddin AlAlbani
KATA PENGANTAR
Tulisan dibawah ini merupakan jawaban dari pertanyaan pernah yang
dilontarkan kepada Syaikh Muhammad Nashiruddin Al‐Albani rahimahullah di
majalah Al‐Ashalah, edisi 11, tgl. 15 Dzulhijjah 1414H, dan pernah dimuat di
majalah As‐Sunnah edisi 13/II/1416 H, kami mengangkatnya kembali di ML
assunnah karena berhubungan dengan ilmu, tentunya dengan ijin dari
penerjemah.
ASAS KEBANGKITAN DUNIA ISLAM
Bentuk pertanyaan yang dilontarkan adalah sbb :
Pertanyaan.
Asas‐asas apakah yang dapat menyebabkan Dunia Islam bangkit kembali .?
Jawab.
Yang saya yakini ialah apa yang terdapat dalam hadits shahih. Ia merupakan
jawaban tegas terhadap pertanyaan semacam itu, yang mungkin di lontarkan
pada masa sekarang ini. Hadits itu adalah sabda Rasulullah SHOLLALLOHU
‘ALAIHI WASALLAM.
Artinya :
15 Juli 2008
11 Rajab 1429 H
www.wahonot.wordpress.com
Al Ghuroba’ meniti jejak generasi terbaik
4
"Apabila kamu melakukan jual beli dengan sistem 'iinah (seseorang menjual
sesuatu kepada orang lain dengan pembayaran di belakang, tetapi sebelum si
pembeli membayarnya si penjual telah membelinya kembali dengan harga
murah red),
menjadikan dirimu berada di belakang ekor sapi, ridha dengan
cocok tanam dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menjadikan kamu
dikuasai oleh kehinaan, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari dirimu
sebelum kamu rujuk (kembali) kepada dien kamu". (Hadist Shahih riwayat Abu
Dawud).
Jadi asasnya ialah RUJUK (kembali) kepada ISLAM.
Persoalan ini, telah diisyaratkan oleh Imam Malik rahimahullah dalam sebuah
kalimat ma'tsur yang ditulis dengan tinta emas : "Barangsiapa mengadaadakan
bid'ah di dalam Islam kemudian menganggap bid'ah itu baik, berarti ia
telah menganggap Muhammad SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM
menghianati risalah". Bacalah firman Allah Tabaraka wa Ta'ala.
Artinya :
"Pada hari ini telah Ku‐sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kusempurnakan
buatmu ni'mat‐Ku, dan telah Ku‐ridhai Islam itu menjadi agama
bagimu". (Al‐Maaidah : 3).
"Oleh karenanya apa yang hari itu bukan agama, maka hari inipun
bukan agama, dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan
apa yang telah baik pada awal umat ini"

Kalimat terakhir (Imam Malik) di atas itulah yang berkaitan dengan jawaban
dari pertanyaan ini, yaitu pernyataannya :
"Dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik
pada awal umat ini".
Oleh sebab itu, sebagaimana halnya orang Arab Jahiliyah dahulu tidak menjadi
baik keadaannya kecuali setelah datangnya Nabi mereka, Muhammad
SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM dengan membawa wahyu dari langit, yang
telah menyebabkan kehidupan mereka di dunia berbahagia dan selamat dalam
kehidupan akhirat. Demikian pula seyogyanya asas yang mesti dijadikan
pijakan bagi kehidupan Islami nan membahagiakan di masa kini, yakni tiada
lain hanyalah RUJUK (kembali) kepada AlKitab
was Sunnah.
Hanya saja, masalahnya memerlukan sedikit penjelasan, sebab betapa banyak
jama'ah serta golongan‐golongan di "lapangan" mengaku bahwa mereka telah
meletakkan sebuah manhaj yang memungkinkan dengannya terwujud
masyarakat Islam dan terwujud pelaksanaan hukum berdasarkan Islam.
Sementara itu kita mengetahui dari Al‐Kitab dan Sunnah Rasulullah
SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM, bahwa jalan bagi terwujudnya itu semua
hanya ada satu jalan, yaitu sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta'ala
dalam firmannya.
"Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan‐Ku yang lurus,
maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan‐jalan (yang lain) karena
jalan‐jalan itu mencerai‐beraikan kamu dari jalan‐Nya". (Al‐An'am : 153).

Dan sungguh Rasulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM, telah
menjelaskan makna ayat ini kepada para shahabatnya. Beliau pada suatu hari
menggambarkan kepada para shahabat sebuah garis lurus di atas tanah,
disusul dengan menggambar garis‐garis pendek yang banyak di sisi‐sisi garis
lurus tadi.
Kemudian beliau SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM membacakan ayat di
atas ketika menudingkan jari tangannya yang mulia ke atas garis yang lurus
dan kemudian menunjuk garis‐garis yang terdapat pada sisi‐sisinya, beliau
bersabda:
"Ini adalah jalan Allah, sedangkan jalan‐jalan ini, pada setiap muara jalan‐jalan
tersebut ada syaithan yang menyeru kepadanya". (Shahih sebagaimana
terdapat di dalam "Zhilalul Jannah fi takhrij As‐Sunnah : 16‐17).
Allah 'Azza wa Jalla‐pun menguatkan ayat beserta penjelasannya dari
Rasulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM dalam hadits di atas, dengan
ayat lain, yaitu firman‐Nya.
"Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas petunjuk (kebenaran)
baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang‐orang mukmin. Kami
biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami
masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk‐seburuk tempat
kembali". (An‐Nisaa : 115)
Dalam ayat ini terdapat sebuah hikmah yang tegas, yakni bahwa Allah
Subhanahu wa Ta'ala mengikatkan "jalannya orang‐orang mukmin" kepada
apa yang telah di bawa oleh Rasulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM.
Hal inilah yang telah diisyaratkan oleh Rasullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI
WASALLAM dalam hadits iftiraq (perpecahan) ketika beliau ditanya tentang Al‐
Firqah An Najiyah (golongan yang selamat), saat itu beliau menjawab :
"(Yaitu) apa yang aku dan shahabatku hari ini ada di atasnya" (lihat As‐Silsilah
Ash‐Shahihah : 203)
Apakah gerangan hikmah yang di maksud ketika Allah menyebutkan "Jalannya
orangorang
mukmin (Sabiilul mukminim)" dalam ayat tersebut .? Dan apakah
kiranya hal yang dimaksud ketika Rasulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI
WASALLAM mengikatkan para shahabatnya kepada diri beliau sendiri dalam
hadits di muka .? Jawabannya, bahwa para shahabat radliyallahu anhum itu
adalah orang‐orang yang telah menerima pelajaran dua wahyu (Al‐Qur'an dan
As‐Sunnah) langsung dari Rasulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM,
beliau telah menjelaskannya langsung kepada mereka tanpa perantara, tidak
sebagaimana keadaan orang‐orang yang sesudahnya.
Tentu saja hasilnya adalah seperti yang pernah dikatakan oleh Rasulullah
SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM dalam sabdanya :
"Sesungguhnya orang yang hadir akan dapat melihat sesuatu yang tidak bisa
dilihat oleh orang yang tidak hadir" (Lihat Shahih Al‐Jami' : 1641).
Oleh sebab itulah, iman para shahabat terdahulu lebih kuat daripada orangorang
yang datang sesudahnya. Ini pula telah diisyaratkan oleh Rasulullah
SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM dalam hadits mutawatir :
"Sebaik‐baik manusia adalah generasiku, kemudian orang‐orang yang
sesudahnya, kemudian orang‐orang yang sesudahnya lagi ". (Muttafaq 'alaihi).
Berdasarkan hal ini, seorang muslim tidak bisa berdiri sendiri dalam
memahami Al‐Kitab dan As‐Sunnah, tetapi ia harus meminta bantuan dalam
memahami keduanya dengan kembali kepada para shahabat Nabi yang Mulia,
orang‐orang yang telah menerima pelajaran tentang keduanya langsung dari
Rasulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM yang terkadang
menjelaskannya dengan perkataan, terkadang dengan perbuatan dan terkadang
dengan taqrir (persetujuan) beliau.
Jika demikian, adalah mendesak sekali dalam "mengajak orang kembali kepada
Alqur'an
dan AsSunnah"
untuk menambahkan prinsip "berjalan di atas apa
yang ditempuh oleh ASSALAFU
ASSHALIH"
dalam rangka mengamalkan
ayat‐ayat serta hadits‐hadits yang telah disebutkan di muka, manakala Allah
menyebutkan "Jalannya orang‐orang mukmin (sabilul mu'minin)", dan
menyebutkan Nabi‐Nya yang mulia serta para shahabatnya dengan maksud
supaya memahami Al‐Kitab was Sunnah sesuai dengan apa yang dipahami oleh
KAUM SALAF generasi pertama dari kalangan shahabat radliyallahu anhum
dan orang‐orang yang mengikuti mereka secara ihsan.
Kemudian, dalam hal ini ada satu persoalan yang teramat penting namun
dilupakan oleh banyak kalangan jama'ah serta hizb‐hizb Islam. Persoalan itu
ialah : "Jalan mana gerangan yang dapat digunakan untuk mengetahui apa yang
ditempuh oleh para shahabat dalam memahami dan melaksanakan sunnah ini
..?".
Jawabannya : "Tiada jalan lain untuk menuju pemahaman itu kecuali harus
RUJUK (kembali) kepada Ilmu Hadits, Ilmu Mushtalah Hadits, Ilmu Al‐jarh wa
At‐Ta'dil dan mengamalkan kaidah‐kaidah serta musthalah‐musthalah‐nya
tersebut, sehingga para ulama dapat dengan mantap mengetahui mana yang
shahih dari Nabi SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM dan mana yang tidak
shahih".
Sebagai penutup jawaban, kami bisa mengatakan dengan bahasa yang lebih
jelas kepada kaum muslimin yang betul‐betul ingin kembali mendapatkan
'IZZAH (kehormatan), kejayaan dan hukum bagi Islam, yaitu anda harus bisa
merealisasikan dua perkara :
Pertama :
Anda harus mengembalikan syari'at Islam ke dalam benak‐benak kaum
muslimin dalam keadaan bersih dari segenap unsur yang menyusup ke
dalammnya, apa yang sebenarnya bukan berasal daripadanya, ketika Allah
Tabaraka wa Ta'ala menurunkan firmannya :
"Pada hari ini telah Kusempurnakan
untuk kamu agamamu, dan telah Kusempurnakan
ni'matKu,
dan telah Kuridhai
Islam itu menjadi agama bagimu"
(AlMaaidah
: 3).
Mengembalikan persoalan hari ini menjadi seperti persoalan zaman pertama
dahulu, membutuhkan perjuangan ekstra keras dari para ulama kaum
muslimin di pelbagai penjuru dunia.
Kedua :
Kerja keras yang terus menerus tanpa henti ini harus dibarengi dengan ilmu
yang telah terbersihkan itu.
Pada hari kaum muslimin telah kembali memahami dien mereka sebagai mana
yang dipahami para shahabat Rasulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM,
kemudian melaksanakan pengamalan ajaran Islam yang telah terbersihkan ini
secara benar dalam semua segi kehidupan, maka pada hari itulah kaum
mu'minin dapat bergembira merasakan kemenangan yang datangnya dari
Allah.
Inilah yang bisa saya katakan dalam ketergesa‐gesaan ini, dengan memohon
kepada Allah agar Dia memberikan pemahaman Islam secara benar kepada
kita dan seluruh kaum muslimin, sesuai dengan tuntunan kitab‐Nya dan
Sunnah Rasulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM yang shahih
sebagaimana yang telah ditempuh oleh SALAFUNA ASHSHALIH.
Kita memohon kepada Allah agar Dia memberikan taufiq kepada kita supaya
dapat mengamalkan yang demikian itu, sesungguhnya Dia SAMI' (Maha
Mendengar) lagi MUJIB (Maha Mengabulkan Do'a).
Wallahu 'alam.
Asas Kebangkitan Dunia Islam 4.5 5 Juli anto Selasa, 04 Mei 2010 Asas Kebangkitan Dunia Islam Oleh : Syaikh Muhammad Nashiruddin AlAlbani KATA PENGANTAR Tulisan dibawah ini merupakan jawaban dari pertanya...


Copyright © Semangat Belajar. All Rights Reserved.Theme by CB Design