Romadhon semakin dekat, tapi
bagaimana keadaan hati kita hari ini?
Apakah ia sudah rindu pada shalat malam, Al-Qur’an, dan doa-doa
panjang… atau masih berat melangkah menuju ketaatan? Romadhon bukan sekadar
pergantian bulan, melainkan undangan langsung dari Alloh ﷻ untuk kembali, memperbaiki diri, dan menaikkan derajat
keimanan. Beruntunglah orang yang menyambut Romadhon dengan kesiapan hati,
bukan sekadar kesiapan agenda dan hidangan.
Romadhon adalah bulan yang Alloh muliakan dan diwajibkan di
dalamnya puasa agar manusia mencapai takwa. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ
عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.”
(QS. Al-Baqoroh: 183)
Rosululloh ﷺ juga memberi
peringatan keras:
وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ
ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Dan sungguh sangat rugi seseorang yang ia masuk dalam bulan Romadhon
kemudian berlalu Romadhon sebelum diampuni dosanya”. (HR. Tirmidzi)
Maka sebelum Romadhon benar-benar
tiba, mari bertanya pada diri sendiri: hati ini sudah siap atau masih lalai?
Semoga Alloh ﷻ menjadikan kita hamba
yang menyambut Romadhon dengan iman dan harapan akan ampunan-Nya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar